Assalamu'alaikum dan salam sejahtera..........Selamat datang ke blog Laman Pak Guru Asan..........Selamat Hari Guru..........Guru Penjana Transformasi Pendidikan Negara..........
Memaparkan catatan dengan label Ilmu. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Ilmu. Papar semua catatan

Khamis, Februari 12, 2015

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU BAGI ORANG ISLAM

Manusia dilahirkan dan datang ke dunia ini dalam keadaan polos, telanjang, buta ilmu pengetahuan, walaupun ia dibekali dengan kekuatan dan pancaindera yang dapat menyiapkannya untuk mengetahui dan belajar.

Allah swt. berfirman:  

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl 78).

Maka pendengaran, penglihatan dan akal ialah alat-alat yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk digunakannya memperoleh pengetahuan dan merupakan jendela-jendela yang melaluinya orang dapat menjenguk ke alam yang luas untuk mengetahui rahasia-rahasianya, kemudian mengambil manfaat dari apa yang Allah telah mengisinya untuk kemakmuran, kebahagiaan dan kelestarian hidup manusia, makhluknya yang diamanatkan untuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi ini.

Orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari pemberian Allah itu dan tidak menggunakannya sesuai dengan fungsinya, patut digolongkan ke dalam bilangan binatang, karena mereka telah menyia-nyiakan pemberian Allah untuk mencari ilmu dan pengetahuan sebagai pembentuk kepribadian manusia. Berfirman Allah swt.:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf 179).
Kunci ilmu pengetahuan
  1. Membaca 
  2. Menyelidiki alam semesta 
  3. Mengadakan perjalanan di atas bumi Allah 

Itulah bidang-bidang yang dapat memberi banyak pengetahuan yang bermanfaat kepada manusia, dan yang banyak disebut-sebut dalam Al-Qur’an untuk menjadi perhatian dan bahan penyelidikan umat Islam. 

Tentang bidang membaca, Allah berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. “(Al-alaq 1-5).

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (Nun 1). 

Rasulullah saw. telah memberi kesempatan kepada para tawanan musyrikin Quraisy dalam perang Bad’r yang tidak sanggup menebus dirinya dengan harta, agar mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh anak orang Islam sebagai tebusan. Hal mana menunjukkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap mata pelajaran membaca dan menulis sebagai kunci ilmu pengetahuan. 

Tentang anjuran menyelidiki alam semesta, Allah berfirman:

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". “ (Yunus 101).

“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (Al-A’raaf 185).

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang ciptaan Allah) .” (Saba’ 46).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Ali Imraan 190-191). 
 
Rasulullah saw. bersabda setelah membaca ayat-ayat ini: “Binasalah orang yang membacanya dan tiada merenungkannya.” 

Tentang anjuran agar orang bepergian mengelilingi bumi berfirmanlah Allah swt:    
 “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj 46).

“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah:

"Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al ‘Ankabuut 19-20). 

Islam merasa tidak cukup dengan hanya menunjukkan kunci-kunci ilmu pengetahuan dan jalan-jalan untuk mencapainya. Islam bahkan mendorong orang untuk giat menuntutnya dan bersungguh-sungguh dalam mengejarnya dan menguasai segala bidangnya. Allah swt. berfirman: 

"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaaha 114). 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. setelah turunnya ayat ini berdo’a: “Ya Allah, ajarkanlah kepadaku apa yang berguna bagiku, dan berilah kepadaku manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan tambahlah ilmuku, segala puji bagi-Mu atas segala hal.” 

Orang tidak akan merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang ia telah capai, tetapi selalu berusaha menambah pengetahuannya, berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan duniawinya. Sebab barangsiapa telah dikaruniai ilmu, maka ia telah memperoleh karunia kebajikan dari segala sudutnya:  

Firman Allah swt.:
“Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (AlBaqarah 269). 

Kekayaan duniawi tidak ada bobotnya dibandingkan dengan kekayaan ilmu dan pengetahuan, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:
الدّنيا ملعونة، ملعون ما فيها إلاّ ذكرالله وما والاه وعالما أو متعلّما. (رواه الترمذى

“Dunia itu terkutuk dan terkutuk semua apa yang ada di dalamnya kecuali orang yang berdzikir (ingat) kepada Allah, orang alim dan orang menuntut ilmu.” (rw. Atturmudzi).

Karena itu sifat iri hati (hasad) yang tercela dalam agama Islam, bahkan dipuji jika sasarannya ilmu dan pengetahuan. Bersabda Rasulullah saw.:

 لا حسد الاّ فى اثنتين:رجل أتاه الله مالا فسلّطه على هلكته فى الحقّ ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضى بها ويعلّمها. (البخارى ومسلم

“Tiada iri hati (hasad) yang dibolehkan kecuali terhadap dua sasaran; terhadap orang yang dikaruniai Allah harta kekayaan dan digunakan untuk menegakkan hak dan kebenaran dan terhadap orang yang dikarunniai Allah ilmu dan hikmah yang diajarkannya lain orang dan dijadikannya pedoman putusan hukumannya”.
 

Al-Qur’an menetapkan bahwa Rasul yang diutus oleh Allah ditugaskan membaca ayat-ayat untuk manusia, mensucikan mereka dengan ajaran akhlak yang luhur dan peradaban yang tinggi dan mengajar mereka kitab Allah dan hikmah (ilmu pengetahuan). Allah berfirman:

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (Al-Jumu’ah 2). 

Orang yang alim dan orang yang bodoh (buta ilmu) tidaklah sama kedudukannya terhadap Allah maupun di pandangan masyarakat, demikian pula tidak sama penilaiannya tentang soal-soal kehidupan. Allah berfirman:

“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?".(Az-Zumar 9). 

Orang yang berpengetahuan melek (terbuka) hati dan jiwa sedang orang tidak berpengetahuan adalah adalah buta hati, bua jiwa dan mudah tersesat oleh godaan syaitan. Allah swt. berfirman:

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadalah 11)

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.” (Ar-Ruum 59).

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,”(Arra’d 19). 

Orang yang tidak memberi penghargaan kepada para ulama, tidaklah patut mengaku dirinya pengikut Muhammad dan penganut agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
 ليس منّا من لم يرحم صغيرنا ولم يوقّر كبيرنا ويعرف لعالمنا حقّه

“Tidak termasuk golongan kita barangsiapa tidak mengasihi yang kecil-kecil dan muda usia di antara kita dan menghormati yang besar-besar dan lanjut usia serta tidak memberi penghargaan kepada para ulama kita.”
 
 
Allah swt., memberi penilaian sama tinggi kepada kesaksian para ulama dan dengan kesaksian para malaikat tentang kebenaran keesaan-Nya, bahkan menggabungkan kesaksian para ulama kepada kesaksian-Nya!

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran 18). 

“Berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul". Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab". (Ar-Ra’d 43). 

Dan untuk mengetahui betapa tinggi penilaian agama Islam terhadap ilmu pengetahuan, terhadap ulamanya, terhadap pengajaranya dan terhadap penuntutnya, maka dapat dibuktikan dengan beberapa hadits Rasulullah saw. sebagai berikut:

 من سلك طريقا يطلب فيه علما سهّل الله له طريقا إلى الجنّة، وإنّ الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع، وإنّ العلماء ورثة الانبياء، وإنّ الانبياء لم يورّثوا دينارا ولا درهما وإنّماورّثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظّ وافر. (رواه الترمذى) 

“Barangsiapa melalui jalan untuk menuntut ilmu, Allah menggampangkan baginya jalan ke syurga, dan bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai tanda rela dan simpati bagi orang itu. Dan bahwa para ulama itu adalah pewaris para nabi, karena pada nabi tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu, maka barangsiapa menangkapnya hendaklah menangkap bahagian yang banyak.” (rw. Attermidzi).
 من خرج ليطلب بابا من العلم فهو فى سبيل الله حتّى يرجع. (رواه الترمذى

“barangsiapa keluar mencari ilmu maka selama ia belum kembali, ia berkedudukan sebagai seorang mijahid di jalan Allah.” (rw. Attermidzi).

 إنّ الله وملائكته وأهل السموات والارض حتّى النّملة فى حجرها وحّى الحوت ليصلّون على معلّم النّاس الخير. (رواه الترمذى) 

“Sesunggunya Allah swt., para malaikat-Nya dan para penghuni langit dan bumi, sampai-sampai semut di dalam lobangnya dan ikan (di laut) sama-sama bershalawat (berdo’a) bagi orang yang mengajar kebaikan kepada sesama manusia.” Rw. Attermidzi).

 رحم الله خلفائ، قالت الصّحابة: ألسنا خلفاءك يارسل الله؟ قال: أنتم أصحابى، وإنّما خلفائ الّذين يأتون بعدى يتعلّمون سنّتى وعلّمو نها النّاس نضّرالله امرءا سمع مقالتى فوعاها ثّ أدّا هاكما سمعها فربّ مبّلغ أوعى من سامع. 

“Bersabda Rasulullah: “Semoga Allah memberi rahmat kepada khalifah-khalifahku”. Lalu bertanya para sahabat: “Bukankah kita semua adalah khalifah-khalifahmu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kamu adalah sahabat-sahabatku sedang khalifah-khalifahku adalah mereka yang datang sesudah aku, mempelajari sunnatku dan mengajarkannya kepada orang lain.”
 

“Semoga Allah memberi cahaya bagi orang yang telah mendengar ceritaku dan mengingatnya kemudian menyampaikannya kepada orang lain tepat sebagaimana ia telah mendengarnya dari aku. Karena kadang kala orang yang ditabligi (dida’wahi) lebih ingat dan teliti daripada orang yang mendengarnya langsung.” 

Menjadi tabi’at seorang mu’min bahwa ia akan selalu mengejar ilmu dan menambah pengetahuannya, dan ia tidak akan berhenti selama ada kesempatan belajar dan menambah pengetahuan, ia seakan-akan orang serakah yang tidak akan pernah kenyang. 
Bersabda Rasulullah saw.:
 لن يشبع مؤمن من خير حتّى يكون منتهاه الجنّة. 

“Seorang mu’min tidak akan berhenti mendengar pelajaran yang baik sampai mencapai akhir hayatnya di syurga.” (rw. Attermidzi).
 
Islam mendorong dan menganjurkan para penganutnya mencari ilmu dan menuntut pengetahuan, karena dengan ilmulah orang dapat membedakan antara haq dan bathil, antara kebajikan dan kejahatan, antara yang salah daripada yang benar, antara hidayah dan sesat, antara baik dan jelek, antara yang bermanfaat dan yang madharat. Dan ilmu itu bagi akal manusia umpama cahaya bagi mata, yang tanpa cahaya itu mata menjadi buta.  

Harga diri seseorang dan tingkat kedudukannya dalam suatu pergaulan hidup ditentukan oleh seberapa jauh ia menguasai ilmu dan memiliki pengetahuan. Demikian pula tingkat kemajuan sesuatu umat di segala bidang ditentukan oleh tingkat kecerdasan umat itu dan sejauh mana para warganya memiliki pengetahuan. Dengan ilmulah sesuatu umat bisa meningkatkan taraf hidupnya, memakmurkan rakyatnya dan menyusun kekuatannya.

Diriwayatkan oleh Sa’ad bin Mu’adz r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
 تعلّموا العلم فإنّ تعلّمه لله خشية وطله عبادة، ومذاكرته تسبيح والبحث عنه جهاد وتعليمه لمن لا يعلمه صدقة وبذله لأهله قربة لأنّه معالم الحلال والحرام ومنارسبل أهل الجنّة وهو الأنيس فى الوحشة والصّاحب فى الغربة والمحدّث فى الخلوة والدّليل على السّرّاء والضّرّاء والسّلاح على الأعداء والزّين عند الأخلاّء. يرفع الله به أقواما فيجعلهم فى الخير قادة تقتفى أثارهم ويقتدى بفعالهم وينتهى إلى رأيهم. ترغب الملائكة فى خلّتهم وبأجنحتها تمسحهم ويستغفرلهم كلّ رطب ويابس وحيتان البحر وهوامّه وسباع البحر وأنعامه، لأنّ العلم حياة القلوب من الجهل ومصابيح الأبصار من الظّلم. يبلغ العبد بالعلم منازل الأخيار والدّرجات العلا فى الدّنيا والأخرة والتّفكير فيه بعدل الصّيام ومدارسته تعدل القيام به توصل الأرحام وبه يعرف الحلال من الحرام وهو إمام العمل والعمل تابعه يلهمه السّعداء ويحرمه الأشقياء.(رواه ابى عبد البر موقوفا) 

“Pelajarilah ilmu karena mempelajari ilmu adalah sebagian dari taqwa kepada Allah, menuntutnya sebagian dari ibadah, mendiskusikannya sebagai tasbih, memperdalaminya sebagai berjihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya merupakan sedekah dan memberikannya kepada yang patut menerimanya merupakan pendekatan kepada Allah. Karena ilmu itu petunjuk bagi hal-hal yang halal maupun yang haram, ia pelita bagi perjalanan ahli syurga. Ilmu itu adalah penghibur dalam kesepian, teman dalam perantauan, pengobrol dalam khalwat, penuntun di waktu suka dan duka, senjata terhadap musuh dan penghibur bagi kawan. Dengan ilmu Allah mengangkat kaum-kaum sebagai pemimpin untuk kebajikan yang jejak-jejaknya diikuti, amal-amal mereka ditiru dan pendapat-pendapatnya di dengar. Para malaikat mendambakan berkawan dengan kaum-kaum itu dan dengan sayap-sayap mereka diusap. Untuk kaum-kaum yang berilmu itu beristighfarlah semua makhluk yang basah dan yang kering, ikan-ikan, ular-ular, singa-singa laut dan binatang-binatangnya. Karena ilmu itu menghidupkan hati dari kebodohan dan merupakan lampu bagi mata-mata dari kegelapan. Dengan ilmu seseorang hamba Allah dapat mencapai kedudukan orang-orang yang saleh dan tingkat-tingkat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Merenungkan sesuatu masalah ilmiah sama seperti berpuasa dan berdarusan ilmiah sama dengan ibadah di waktu malam. Dengan ilmu dapat terlaksana silaturahmi dan dengan ilmu dapat diketahui mana yang halal dan mana yang haram. Ilmu merupakan imamnya amal dan amal perbuatan adalah pengikut ilmu. Ilmu diilhamkan oleh Allah kepada orang-orang yang bahagia dan tidak didapatkan oleh orang-orang yang celaka dan bengal.” (rw. Ibnu Abdulbarr).
 

Adapun ilmu yang seharusnya tiap muslim mengetahuinya, ialah: Tentang wahyu sesuai dengan apa yang ada dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya dan dengan ajaran aqidah dan syariat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
 ألعلم ثلاثة: أية محكمة وسنّة قائمة وفريضة عادلة

Ilmu itu adalah: Al-Qur’an (Aayatun mukhamah), Hadits Rasulullah (Sunnatun Qaimah) dan Syari’at (Faridhatun aadilah).
 

Tentang aqidah berfirmanlah Allah swt.:
  
"Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah.” (Muhammad 19). 

Dan tentang syari’at bersabdalah Rasulullah saw.:
 طلب العلم فريضة على كلّ مسلم ومسلمة

“Menuntut ilmu adalah wajib atas tiap muslim dan muslimat”.
 

Ilmu yang wajib dipelajari ialah pengetahuan tentang apa yang harus diamalkan, seperti pengetahuan tentang hukum-hukumnya sembahyang dan tentang apa yang diharamkan dan dihalalkan oleh agama. Demikian pula segala apa yang dilakukan tanpa dasar pengetahuan yang meyakinkan adalah ibadah yang bathil (tidak sah) dan sekali-kali tidak akan diterima. 

Berkata Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
 قصم ظهرى إثنان: جاهل متنسّك وعالم متهتّك

“Dua orang mematahkan punggungku (menjengkelkan) aku: Orang bodoh (tidak berpengetahuan) yang betapa dalam ibadahnya dan orang alim (berpengetahuan) yang bermaksiat secara terbuka.”.

  
Adapun cabang-cabang ilmu yang bersumber dari wahyu, ialah tafsir, hadits, riwayat nabi, tauhid, fiqih, sejarah Islam, hukum-hukum Islam dan tasawuf. Selain itu Islam juga menghimbau para penganutnya agar memepelajari cabang-cabang ilmu yang berhubungan dengan alam semesta, seperti ilmu alam, ilmu kimia, ilmu falak, tumbuh-tumbuhan, ilmu jiwa, sosial dan sejarah umum, karena itu semua dapat menambah pengetahuan orang dan keyakinannya akan kebesaran Tuhan dan kekuasaan-Nya serta hikmah yang terkandung dalam apa yang telah diciptakan.  

Marilah kita mempelajari dan merenungkan apa yang terkandung dalam ayat-ayat firman Allah swt. di bawah ini:

“Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). seperti Itulah terjadinya kebangkitan.”(Qaaf 6-11).  

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Ar-ruum 22).

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir 27-28).

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ar-ruum 50).

 “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (Annuur 43-44).

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (Ath-Thaariq 5-7).

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? “ Adz Dzariaat 20-21).

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Ingatlah bahwa Sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang Pertemuan dengan Tuhan mereka. ingatlah bahwa Sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu.” (Fushshilat 53-54). 

Tidakkah dalam ayat-ayat yang dikutip di atas terkandung petunjuk yang menghimbau umat Islam agar mempelajari secara mendalam ilmu alam, ilmu hayat, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu sosial dan sejarah? Di samping itu dalam banyak hal ayat-ayat yang mengandung perintah mempelajari ilmu-ilmu tersebut terdapat kata-kata “wasakhkhara” yang artinya “menundukkan”, yakni bahwasanya Allah swt. telah menundukkan apa yang telah diciptakan di langit dan di bumi dengan semua isi dan kandungannya untuk dimanfaatkan oleh manusia, makhluk utamanya yang ditugaskan menjadi khalifah-Nya di atas bumi. 

Terang sekali bahwa manusia tidak akan sanggup mengambil manfaat dari apa yang telah diciptakan oleh Tuhan itu, jika ia tidak mengenalnya secara terperinci, mengetahui rahasia-rahasianya, cara-cara penggaliannya dan cara-cara penggunaannya secara tepat sesuai dengan kebutuhannya bagi kelestarian dan kebahagiaan hidupnya. 
Para ulama Islam telah sepakat bahwa mempelajari dan mendalami cabang-cabang ilmu yang ada kaitannya dengan kehidupan manusia dan dengan teknik pembangunan yang merupakan kebutuhan pokok sesuatu umat, tidak terkecuali ilmu kemiliteran dan pertahanan adalah merupakan suatu “fardhu kifayah”. 

Arti fardhu kifayah ialah, suatu kewajiban yang ditimpakan di atas suatu kelompok manusia sebagai suatu kesatuan, namun cukup bila dilaksanakan oleh sebagian warga-warga kelompok itu. Akan tetapi bila kewajiban itu sampai tidak terlaksana, maka seluruh anggota kelompok mengandung dosa. 

Demikianlah, maka sejauh yang menyangkut suatu bangsa atau negara terutama yang berpedoman kepada hukum-hukum Islam, akan berdosalah para pemimpin dan para penguasanya yang bertanggung jawab, bila fardhu kifayah yang termaksud di atas merupakan dasar dan sendi hidup suatu bangsa dialpakan dan ditinggalkan tidak terlaksana.
Sumber dan terima kasih:  http://yuksedekahilmu.blogspot.com

Khamis, Januari 15, 2015

CARI ILMU YANG BERMANFAAT

Mengetahui ciri-ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat sangatlah penting. Oleh karena itu, berikut ini dijelaskan beberapa ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, yang diambil dari kitab Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali yang berjudul Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf.
Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang yaitu:
  1. Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada ALLAH.
  2. Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada ALLAH dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk.
  3. Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia. 
  4. Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia.
  5. Senantiasa didengar doanya.
  6. Ilmu itu senantiasa berada di hatinya.
  7. Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.
  8. Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian.
  9. Selalu mengharapkan akhirat.
  10. Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian.
  11. Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak ALLAH, bukan untuk kepentingan pribadinya.
  12. Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya.
  13. Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka.
  14. Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada ALLAH Ta'ala.
 
Sedangkan ciri-ciri ilmu yang tidak bermanfaat di dalam diri seseorang iaitu:
  1. Ilmu yang diperoleh hanya di lisan bukan di hati.
  2. Tidak menumbuhkan rasa takut pada ALLAH.
  3. Tidak pernah kenyang dengan dunia bahkan semakin bertambah semangat dalam mengejarnya.
  4. Tidak dikabulkan doanya.
  5. Tidak menjauhkannya dari apa-apa yang membuat ALLAH murka.
  6. Semakin menjadikannya sombong dan angkuh.
  7. Mencari kedudukan yang tinggi di dunia dan berlomba-lomba untuk mencapainya.
  8. Mencoba untuk menyaing-nyaingi para ulama dan suka berdebat dengan orang-orang bodoh.
  9. Tidak menerima kebenaran dan sombong terhadap orang yang mengatakan kebenaran atau berpura-pura meluruskan kesalahan karena takut orang-orang lari darinya dan menampakkan sikap kembali kepada kebenaran.
  10. Tidak menerima kebenaran dan sombong terhadap orang yang mengatakan kebenaran atau berpura-pura meluruskan kesalahan karena takut orang-orang lari darinya dan menampakkan sikap kembali kepada kebenaran.
  11. Mengatakan orang lain bodoh, lalai dan lupa serta merasa bahwa dirinya selalu benar dengan apa-apa yang dimilikinya.
  12. Selalu berburuk sangka terhadap orang-orang yang terdahulu.
  13. Banyak bicara dan tidak bisa mengontrol kata-kata.
Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: 
“Di saat sekarang ini, manusia boleh memilih apakah dia itu ridha untuk dikatakan sebagai seorang ulama di sisi ALLAH ataukah dia itu tidak ridha kecuali disebut sebagai seorang ulama oleh manusia di masanya. Barang siapa yang merasa cukup dengan yang pertama, maka dia akan merasa cukup dengan itu… Barang siapa yang tidak ridha kecuali ingin disebut sebagai seorang ulama di hadapan manusia, maka jatuhlah ia (pada ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam): "Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menyaing-nyaingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia itu telah mempersiapkan tempat duduknya dari neraka"

Khamis, Disember 04, 2014

CIRI-CIRI ILMU YANG BERMANFAAT

Sebuah hadith mengatakan bahwa ada tiga amalan yang ketika telah meninggal pahalanya terus mengalir kea lam kubur kita. Yang pertama sedekah jariah, yang kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga doa anak yang soleh. 
Berkaitan dengan yang kedua )ilmu), kita perlu tahu ciri-ciri ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya, ketika orang-orang mengamalkan ilmu yang dberikan oleh kita. Ada pula ciri-ciri ilmu yang bermanfaat ketika kita masih hidup di dunia. 
Imam Al-Ghazzali menyebutkan 7 ciri ilmu yang bermanfaat di dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:
  1. Barang yang menambah takutmu akan Allah S.W.T
  2. Dan menambah pula di dalam penglihatan hatimu pada kecelaan dirimu,
  3. Dan menambah pula dalam pengenalanmu akan ibadah kepada Tuhanmu yang Maha Mulia dan Yang Maha Tinggi,
  4. Dan mengurangkan akan gemarmu kepada dunia,
  5. Dan menambah gemarmu kepada akhirat,
  6. Dan membukakan ia akan mata hatimu dengan yang membinasakan akan amalmu hingga engkau memelihara diri daripadanya,
  7. Dan melihatkan dia akan dikau atas tipu daya syaitan dan perdayanya.
Selain itu di dalam kitab Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali yang berjudul Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf. Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang:
  1. Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah. 
  2. Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk. 
  3. Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia. 
  4. Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia. 
  5. Senantiasa didengar doanya. 
  6. Ilmu itu senantiasa berada di hatinya. 
  7. Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan. 
  8. Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian. 
  9. Selalu mengharapkan akhirat. 
  10. Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian. 
  11. Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak Allah, bukan untuk kepentingan pribadinya. 
  12. Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya. 
  13. Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak boleh menyaingi martabat mereka. 
  14. Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnhya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara,tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada Allah Taala.
 
Apakah ilmu yang bermanfaat itu telah tercermin dalam diri kita?

Jumaat, November 28, 2014

ILMU DALAM ISLAM

1. Apakah Ilmu itu ?
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian:

“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia) “Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (And English reader’s dictionary) “Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary). 

Dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”.

2. Kedudukan Ilmu Menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al- Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.


Didalam Al qur’an, kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dariagama Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani9(1995; 39) sebagai berikut;

"Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan ,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi’’

ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan) dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
 


Ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu, dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan firman ALLah: “Sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu); (surat faatir :28)

Disamping ayat–ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “Dan katakanlah, tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan“. Dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu, menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca, sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5 yang artinya:

“Bacalah dengan meyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan Kamu dari segummpal darah. Bacalah,dan tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia ) dengan perantara kala. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”

Ayat–ayat trersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu,untuk terus membaca, sehingga posisi yang tinggi dihadapan ALLah akan tetap terjaga, yang berearti juga rasa takut kepeada ALLah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh, dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi denga ilmu akan membuahkan amal, sehingga Nurcholis Madjd (1992 : 130) meyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal.

Di samping ayat –ayat Al-Qur'an, banyak nyajuga hadisyang memberikan dorongan kuat untukmenuntut Ilmu antara lain hadis berikut yang dikutip dari kitab jaami’u Ashogir (Jalaludin-Asuyuti, t. t :44 ):  

“Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagisetuap muslim” (hadis riwayat Baihaqi).  

“Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim . sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut“. (hadist riwayat Ibnu Abdil Bar).  

Dari hadist tersebut di atas, semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa mengenal batas wilayah.

3. Klarsfikasi Ilmu menurut ulama islam.
Dengan melihat uraian sebelumnya ,nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran islam. Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabimenunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini.
 

Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’liimu AL Muta‘alim (t.t. : 4) ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan:

“Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntutsegsls ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu AL hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuaytan dan sebagus –bagus amal adalah menjaga perbuatan”.

Kewajiban manusia adalah beribadah kepeda ALLah, maka wajib bagi manusia(Muslim, Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata cara tersebut, seprti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji ,mengakibatkan wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut. Demikianlah nampaknya semangat pernyataan Syech Zarnuji ,akan tetapi sangat di sayangkan bahwa beliau tidak menjelaskan tentang ilmu-ilmu selain “Ilmu Hal” tersebut lebih jauh di dalam kitabnya. 
Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu 1). Ilmu Fardu a’in, dan 2). Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian Ilmu-ilmu tersebut sebagai berikut:

“Ilmu fardu a’in. Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in “ (1979 : 82)

“Ilmu fardu kifayah. Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi “ (1979 : 84)


Lebih jauh Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu (yang menuntutnya) fardhu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakan urusan dunia.

Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi kelompok ilmu ke dalam dua kelompok yaitu:
  1. Ilmu yang merupakan suatu yang alami pada manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir.
  2. Ilmu yang bersifat tradisional (naqli).

Apabila kita lihat pengelompokan di atas , barangkali bisa disederhanakan menjadi 1). Ilmu aqliyah, dan 2). Ilmu naqliyah.


Dalam penjelasan selanjutnya Ibnu Khaldun menyatakan:

“Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmmah dan falsafah. Yaituilmu pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya, persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya, sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir. Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara“ (Nurcholis Madjid, 1984 : 310)

Dengan demikian bila melihat pengertian ilmu untuk kelompok pertama nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-ajaran syariat dari al qur’an dan sunnah Rasul. 

Ulama lain yang membuat klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu: 1). Al manqulat, 2). Al ma’qulat, dan 3). Al maksyufat. Adapun pengertiannya sebagaimana dikutif oleh A Ghafar Khan dalam tulisannya yang berjudul “Sifat, Sumber, Definisi dan Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Syah Waliyullah” (Al Hikmah, No. 11, 1993), adalah sebagai berikut :
  1. Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama yang disimpulkan dari atau mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al hadis.
  2. Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan penting.
  3. Al maksyufat adalah ilmu yang diterima langsung dari sumber Ilahi tanpa keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif

Selain itu, Syah Waliyullah juga membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok iaitu: 1). Ilmu al husuli, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat indrawi, empiris, konseptual, formatif aposteriori dan 2). Ilmu al huduri, yaitu ilmu pengetahuan yang suci dan abstrak yang muncul dari esensi jiwa yang rasional akibat adanya kontak langsung dengan realitas ilahi.


Meskipun demikian dua macam pembagian tersebut tidak bersifat kontradiktif melainkan lebih bersifat melingkupi, sebagaimana dikemukakan A.Ghafar Khan bahwa al manqulat dan al ma’qulat dapat tercakup ke dalam ilmu al husuli.

4. Apakah falsafah itu?
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani dari kata “philo” berarti cinta dan ”sophia” yang berarti kebenaran, sementara itu menurut I.R. Pudjawijatna (1963 : 1) “Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu. Sofia artinya kebijaksanaan , bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam, jadi menurut namanya saja Filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dengan mendalam atau cinta dengan kebijaksanaan.



Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak. Menurut Sidi Gazlba (1976 : 25) Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen); batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat: segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatuyang diluar alam, yang disebut oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar Amin Hoesin (1964 : 7) mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat.

5. Apakah Falsafah Ilmu itu ?
Falsafah ilmu pada dasarnya merupakan upaya untuk menyoroti dan mengkaji ilmu, dia berkaitan dengan pengkajian tentang obyek ilmu, bagaimana memperolehnya serta bagaimana dampai etisnya bagi kehidupan masyarakat. Secara umum kajian filsafat ilmu mencakup:
  1. Aspek ontologis
  2. Aspek epistemologis
  3. Axiologis
Aspek ontologis berkaiatan dengan objek ilmu, aspek epistemologis berkaiatan dengan metode, dan aspek axiologis berkaitan dengan pemanfatan ilmu. Dari sudut ini folosuf muslim telah berusaha mengkajinya dalam suatu kesatuan dengan prinsip dasar nilai-nilai keislamanyang bersumebr pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Sumber dan terima kasih:  http://yuksedekahilmu.blogspot.com

Rabu, Februari 01, 2012

10 ADAB DALAM MENUNTUT ILMU

Dalam kitab “Ihya’ Ulum al-Din” karangan Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, telah membuat satu garis panduan adab pelajar dalam menuntut ilmu. Dalam penulisannya, Imam al-Ghazali telah mengenalpasti 10 panduan yang boleh dijadikan asas pedoman kepada para pelajar. Asas-asas ini perlu dihayati dan dicernakan dalam diri para pelajar dalam usaha mereka menuntut ilmu sama ada di peringkat rendah atau di peringkat pengajian tinggi.

  • Pertama, menjauhi perkara-perkara yang boleh merosakkan akhlak yang murni, kerana ilmu amat mudah mendekati orang yang baik budi pekertinya dan jiwa yang sentiasa bersih dan tenang. Sekiranya, hati seseorang itu dicemari dengan elemen-elemen yang negatif yang boleh merosakkan kemurnian hati dan jiwa menyebabkan pelajar tersebut sukar untuk menguasai ilmu. Ini kerana secara prinsipnya, ilmu itu bersifat suci. Firman Allah dalam al-Quran yang bermaksud: “Sesungguhnya orang-orang musyriq itu najis” (at-Taubah:28). Istilah najis yang dijelaskan oleh al-Quran merupakan simbolik yang mengertikan sifat kotor tersebut mesti dijauhi dan dihindari disebabkan sifat tersebut boleh merosakkan manusia.

  • Kedua, para pelajar disarankan tidak terlalu terikat dengan hal-hal keduniaan yang berkecenderungan melalaikan fikiran daripada menumpukan perhatian sepenuhnya terhadap pelajaran. Unsur-unsur ini boleh menyebabkan pelajar tidak dapat menunaikan tanggungjawabnya sebagai pelajar yang hakiki dan memalingkan fikirannya dalam usaha menuntut ilmu. Firman Allah dalam al-Quran yang bermaksud “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua organ hati dalam rongganya” (al-Ahzab:4). Oleh yang demikian, sekiranya fikiran para pelajar dipengaruhi oleh elemen-elemen yang boleh mencemari mentalitinya menyukarkan untuk mengetahui hakikat ilmu. Menurut Imam al-Ghazali, “Seseorang itu tidak dapat menguasai ilmu secara sebahagian, melainkan ia memberi perhatian dan tumpuan yang sepenuhnya”. Beliau memberi perumpamaan terhadap pemikiran yang dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak berkait dengan ilmu seperti air yang mengalir dari sungai kecil, sebahagiannya diserap oleh tanah dan sebahagian lagi diserap oleh udara sehingga tidak ada lagi yang sampai ke ladang.

  • Ketiga, para pelajar tidak boleh bersikap angkuh dan bongkak terhadap golongan intelektual dan guru. Adalah menjadi kewajipan pelajar untuk menyerahkan segala urusan berkaitan ilmu dan mematuhi serta menghormati guru seperti orang sakit yang mematuhi arahan dan nasihat doktor. Para pelajar dituntut bersifat rendah diri, baik sangka dan setia kepada guru serta sedia menawarkan perkhidmatan kepadanya. Oleh yang demikian, pelajar tidak boleh bersikap sombong dengan guru seperti tidak mengambil manfaat ilmu yang disampaikannya dengan alasan antaranya, beranggapan guru tersebut tidak mempunyai kelayakan akademik yang tinggi. Sikap seperti ini menunjukkan kebodohan dan kedangkalan pemikiran yang ada dalam diri seseorang pelajar. Sebaliknya, para pelajar seharusnya merasa terhutang budi terhadap guru yang mencurahkan ilmu yang memandunya ke arah kebenaran.

  •  Keempat, orang yang bersifat tekun dalam menuntut ilmu pada tahap awalnya perlu mengelakkan diri mendengar perselisihan dan perbezaan pendapat di kalangan manusia sama ada yang melibatkan ilmu keduniaan atau ilmu akhirat. Secara rasionalnya, ia boleh mengelirukan pemikirannya terhadap disiplin ilmu yang baru dipelajarinya dan membantutkan usahanya untuk membuat penyelidikan yang mendalam. Namun begitu, bagi seseorang yang telah menguasai sesuatu bidang disiplin ilmu secara mahir dan mendalam tidak menjadi halangan untuk mengkaji perbezaan pendapat tentang sesuatu perkara. Ini kerana, perbezaan pendapat tentang sesuatu perkara merupakan salah satu daripada metodologi medan penyelidikan ilmu.

  •  Kelima, seseorang pelajar tidak boleh meninggalkan sesuatu disiplin ilmu yang terpuji melainkan ia telah mempertimbangkan dengan sebaik mungkin. Sekiranya faktor usia mengizinkan untuk menuntut ilmu, ia harus mengambil peluang untuk meningkatkan kepakarannya ke peringkat yang lebih tinggi. Sebaliknya jika faktor usia menjadi kekangan terhadap usaha menimba ilmu pengetahuan maka seseorang itu perlu mengetahui perkara asas dan penting dalam ilmu yang dikuasainya berdasarkan kemampuannya.

  •  Keenam, tidak memaksa untuk menguasai semua disiplin ilmu secara sekaligus. Tindakan yang bijak ialah dengan menguasai sesuatu bidang ilmu itu mengikut tahap dan tingkatan ilmu berdasarkan kemampuan dan keupayaan yang ada pada diri seseorang. Kompetensi yang ada pada manusia adalah terbatas oleh pelbagai faktor dari aspek pengalaman, realiti semasa, kepakaran dan keupayaan mentaliti seseorang.

  •  Ketujuh, seseorang tidak boleh mencampur-adukkan sesuatu cabang ilmu sebelum menguasai dan memahami dengan mahir cabang ilmu yang sebelumnya. Ini kerana tertib dalam ilmu adalah tersusun dan berkait rapat antara satu sama lain. Oleh yang demikian, sekiranya seseorang pelajar memahami sesuatu ilmu dengan tertib dan tersusun maka ia dapat menguasai sesuatu konsep ilmu dengan baik. Pemahaman manusia tentang konsep ilmu akan lebih sempurna dan konsisten jika setiap cabang ilmu dihadam dan dicernakan mengikut tahap-tahap dan fasa yang tersusun dan terancang.

  •  Kelapan, seseorang pelajar perlu mengetahui hakikat dan objektif sesuatu disiplin ilmu yang dipelajari. Ia bertujuan untuk menilai sesuatu kepentingan ilmu dan faedahnya kepada para pelajar supaya ilmu tersebut dapat diaplikasi dalam kehidupan dan memberi manfaat kepada masyarakat. Matlamat utama ilmu yang dipelajari itu tidak bertentangan dengan syariat dan membawa kemudharatan kepada umat manusia.

  • Kesembilan, para pelajar perlu bersikap ikhlas dalam menuntut ilmu. Kepentingan nilai ikhlas bertujuan untuk membersihkan jiwa seseorang yang bersifat riak dan takabur sesama manusia. Hakikatnya, manusia yang berilmu memiliki jiwa yang bersih dan sentiasa mendekatkan diri kepada Allah. Meskipun manusia dituntut menguasai ilmu-ilmu agama, namun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keduniaan tidak boleh diabaikan, kerana ia sebahagian daripada fardhu kifayah. Dalam era globalisasi ini, ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu kifayah sangat penting bagi masyarakat Islam kerana ia dianggap sebagai satu kemaslahatan ( keperluan ) yang perlu dikuasai oleh umat Islam. Sekiranya manusia mengabaikan bidang disiplin ilmu ini menyebabkan umat Islam ketinggalan dalam zaman yang serba canggih. Dalam al-Quran, Allah berfirman yang bermaksud: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Mujadalah:11)

  •  Kesepuluh, setiap pelajar perlu mengetahui perkaitan ilmu yang dipelajari bertujuan supaya mengutamakan keperluan ilmu yang perlu didahulukan daripada ilmu yang berbentuk sampingan. Keutamaan ilmu ini penting kerana ia dapat mengukuhkan pemahaman pelajar tentang sesuatu perkara. Di samping itu, ia menjadi asas utama untuk mempelajari disiplin ilmu yang lain disebabkan ia mempunyai kesinambungan di antara satu cabang ilmu dengan disiplin ilmu yang lain.Berdasarkan garis panduan yang telah diberikan oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ Ulum al-Din” diharapkan dapat memberi pedoman yang berfaedah kepada mereka yang bergelar pelajar. Mutiara kata-kata yang dicurahkan oleh ulama’ silam perlu diambil perhatian dan diamalkan oleh individu yang bergelar pelajar, agar ilmu yang dipelajari diberkati oleh Allah dan dapat memberi faedah besar kepada umat sejagat.

Sumber: albakriah.wordpress.com